Creepypasta - The Real Part 2/4
The Real (part 2/4)
Episode yang lalu: Sang narator mengikuti ritual yang pernah diceritakan temannya, Ogawa, dan berujung pada penampakan hantu di apartemennya. Sang narator kembali ke rumah orang tuanya untuk meminta dukungan Miss Akagi, seorang biksuni untuk mengusir hantu itu. Namun dalam perjalanan, sang narator mengalami sesuatu yang aneh terhadap lehernya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Dengan napas tersengal-sengal, saya segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu di belakangku. Aku mendengar ibuku menutup telepon dan begitu melihat wajahku, ia pribadi berkata.
"Miss Akagi gres saja menelepon! Kau ingat dia kan, biksuni yang tinggal di Nagasaki? Beliau sangat mencemaskanmu. Beliau menyampaikan bahwa ada hal yang jelek terjadi padamu dan ingin berbicara denganmu secepat mungkin. Apa kau baik-baik saja, Nak?" mata ibuku pribadi membelalak begitu melihat leherku, "Astaga! Apa yang terjadi dengan lehermu?"
Aku segera berlari ke cermin yang berada di lorong. Tadi saya sempat berpikir saya kondusif di sini, bahwa makhluk yang sebelumnya kulihat di apartemenku takkan mengikutiku di sini. Namun saya segera menyadari bahwa saya salah begitu melihat garis merah yang melingkari leherku. Luka itu terlihat menyerupai seutas tali yang tengah meliliti leherku. Aku mendekat ke cermin untuk melihatnya lebih terperinci dan terlihat bagiku, luka aneh itu akan sulit hilang.
Aku mulai gemetar. Aku tak bisa berpikir lagi. Yang dapt kulakukan hanyalah naik ke kamar ibuku, dimana ada sebuah patung Buddha kecil di sana. Aku berdoa di depannya terus-menerus.
"Apa yang terjadi?" ayahku yang sepertinya gres saja berbicara dengan ibuku, menyerbu masuk ke dalam ruangan. Ibu sangat ketakutan, sehingga dia memanggil nenek. Aku tak bisa menerka apa yang ibuku bicarakan di telepon di tengah doaku, namun saya bisa mengetahui bahwa dia tengah menangis. Sesuatu mengenai ibuku yang ketakutan membuatku tersadar betapa serius kondisi yang tengah kualami ini. Tak ada daerah yang kondusif bagiku. Makhluk itu akan terus mengikutiku hingga tamat hayatku.
Setelah tiga hari, keadaanku hanya terus memburuk. Aku tak tahu apakah ini lantaran kondisi mentalku yang turun ataukah lantaran ulah makhluk yang terus mengikutiku ini, namun saya menderita demam yang amat parah selama dua hari. Leherku terus-menerus berkeringat dan pada hari kedua, darah mulai bercampur dengan keringatku. Pendarahanku mulai terhenti keesokan harinya sehabis demamku mulai turun. Aku kesudahannya bisa menenangkan diriku sedikit.
Namun leherku masih terasa gatal, bahkan terasa menyerupai disengat. Apapun yang menyentuhnya, apakah itu handuk, kaos, selimut, semuanya menyampaikan rasa sakit di sekitar luka tersebut. saya berusaha untuk tidak menyentuhnya lantaran takut darah akan keluar kembali dari luka tersebut. Aku hanya berbaring sepanjang hari, memaksa diriku sendiri untuk berhenti memikirkannya. Namun tiap kali saya masuk ke kamar mandi, saya tak bisa menghindar untuk melihat ke arah cermin.
Apa yang kulihat di cermin benar-benar hampir membuatku jadi gila. Warna merah hampir sepenuhnya menghilang, namun luka itu ... saya bisa menyampaikan bahwa luka itu justru makin melebar. Benda itu benar-benar membuatku jijik. Aku akan mencoba menggambarkan menyerupai apa luka itu sekarang, maaf jikalau saya menciptakan kalian merasa mual.
Ketika pertama muncul, luka itu hanya berbentuk garis merah tipis sekitar 1 cm lebarnya. Garis itu melingkari leherku tanpa terputus. Kulitku cukup putih, sehingga warna merah itu sangat terperinci terlihat, kontras dengan warna kulitku. Luka itu benar-benar nampak menyerupai tali merah yang tengah meliliti leherku.
Namun sehabis tiga hari, benda itu mulai berubah bentuk. Bentuknya benar-benar menjijikkan ketika saya melihatnya di cermin. Tampak benjolan-benjolan di luka itu, letaknya sangat berdekatan hingga hampir tak ada jarak antara satu tonjolan dengan tonjolan yang lainnya. Ukurannya kecil-kecil, namun yang membuatnya buruk, terlihat cairan benjol keluar dari benjolan-benjolan itu. Dan luka itu tampak semakin melebar dan melebar. Aku bahkan muntah begitu pertama melihatnya. Aku mencoba mencuci leherku dengan air, namun rasa sakit terus saja menyengat. Ibuku bahkan mengoleskan obat ke luka tersebut, namun saya tahu itu takkan membantu. Aku kembali berbaring di atas kasur dan menangis sepanjang malam.
"Kenapa aku?" hanya itu yang bisa kupikirkan. Tak ada hal lain yang terlintas di dalam benakku kecuali penyesalan.
Aku hingga di suatu titik dimana saya tak bisa lagi menangis. Telepon genggamku tiba-tiba berdering. Itu Ogawa. Ketika saya melihat namanya di caller ID, hatiku segera terisi dengan harapan. Aku tiba-tiba serasa di-charge dengan energi yang saya bahkan lupa masih memilikinya. Aku tak mengira saya akan sebahagia ini mendapat telepon darinya.
"Halo!" saya mengangkatnya secepat mungkin.
"Hei, apa kau baik-baik saja?"
"Tidak ... kondisiku tak begitu baik." Aku mencoba sebisa mungkin tak membiarkan perasaan menguasaiku, namun tangisku hampir pecah.
"Oh, seburuk itu ya?"
Kata 'buruk' bahkan tak cukup bersahabat untuk menggambarkannya. "Hei, bagaimana? Kau sudah menemukan seseorang untuk menolongku?"
Ketika ia tak segera menjawabku, saya tahu ada sesuatu yang tidak beres. "Maaf, tapi saya belum menemukannya. Aku sudah menghubungi beberapa mitra lamaku, namun saya belum mendapat kabar apapun."
"Apa? Makara apa yang harus kulakukan?" saya tahu saya terdengar sangat memaksa dan terdengar egois, namun saya tak peduli. Dia harus menolongku!
"Tenanglah sedikit, oke? Tak ada seorangpun yang kukenal bisa menolongmu. Namun mungkin ada seseorang, ia sahabat dari temanku. Temanku menyampaikan ia sangat hebat dan ia akan sangat senang menolongmu, namun ..."
"Namun?" saya mulai tak sabar.
"Harganya sangat mahal." Ia tampak tak lezat ketika menyebutkannya.
"Ia minta bayaran?"
"Ya begitulah kata temanku. Bagaimana, kau mau?"
"Berapa?" gotong royong saya tak ingin mendengar balasan Ogawa, lantaran ia sendiri terdengar sangat berat untuk mengatakannya.
"Menurut temanku, mungkin sekitar 500 ribu yen [sekitar 59 juta]."
"500 ribu yen? Bagaimana saya harus membayarnya?" saya mempunyai pekerjaan, namun tidak mungkin bagiku mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Namun jikalau itu bisa melepaskan semua penderitaan ini, mungkin saya tak mempunyai pilihan lain, "Baik, dimana saya bisa menemuinya"
"Temanku bilang ia tinggal di Gunma. Aku harus menanyakan pada temanku dimana persisnya, jadi saya akan meneleponnya dan lihat apa yang bisa ia lakukan."
Percakapan kamipun usai dan saya pergi untuk berdoa di altar kembali. Kalian mungkin masih ingat, pada hari saya tiba, ibuku memanggil nenek. Beliau menyampaikan bahwa Miss Akagi mungkin akan tiba untuk menolongku secepat mungkin. Namun ada masalah. Beliau sangat sibuk dan dia juga sudah sangat tua. Paling cepat dia bisa tiba di sini 3 ahad lagi. Itu berarti saya terjebak dengan keadaan ini untuk tiga ahad ke depan. Aku tak tahu apakah saya bisa bertahan selama itudan semuanya itu membuatku sangat gugup dan ketakutan. Tiga ahad tanpa kepastian. Aku terperinci takkan bisa melaluinya. Paling tidak, saya tak bisa hanya berdiam diri saja selama itu. Aku harus mencoba melaksanakan sesuatu.
Ogawa meneleponku kembali sekitar jam 11 malam itu.
"Maaf membuatmu menunggu. Aku harus menunggu temanku meneleponku balik. Ia bilang orang itu bisa tiba ke tempatmu besok."
"Besok?"
"Besok hari Minggu bukan?" Ogawa terdengar terkejut ketika ia tahu saya tak menyadari bahwa ini tamat pekan. Akupun sama terkejutnya. Sudah lima hari berlalu semenjak kami berjumpa terakhir kalinya. Aku bahkan lupa bahwa saya sudah bolos selama seminggu dari kantor.
"Baiklah kalau begitu," jawabku, "Terima kasih. Jadi, dia akan tiba ke sini, ke Saitama?"
"Ya, katanya begitu. Ia mempunyai kendaraan beroda empat sendiri, jadi saya akan mengirimkan alamatmu kepadanya, oke?"
"Baik, saya akan mengirimkanmu SMS berisi alamatku. Oya, kau tak melaksanakan apapun kan besok? Bisakah kau tiba bersamanya?"
"Oh, tentu. Jangan khawatir."
"Oya ... bisakah kira-kira saya membayarnya belakangan?" saya tak mau berterus terang bahwa saya tak mempunyai uang, namun kurasa Ogawa bisa menyimpulkannya sendiri."
"Kurasa bisa."
"Baiklah. Hubungi saya besok jikalau kau sudah berada di bersahabat sini." Semuanya tak begitu sesuai rencanaku, namun kurasa ini justru lebih baik.
Malam itu, saya bermimpi aneh. Seorang gadis mengenakan kimono putih berlutut di lantai di sampingku. Ia membungkuk dalam-dalam ke depan, menaruh tiga jari dari tiap tangan ke lantai ketika ia membungkuk. Ia kemudian bangun dan meninggalkan kamar, namun tidak sebelum ia membungkuk kembali di depan pintu. Aku tak tahu apa kaitan mimpi itu dengan situasi yang kini kualami, namun saya merasa menyerupai semua ini ada hubungannya.
Hari berikutnya Ogawa meghubungiku sempurna siang hari. Aku membimbingnya ke rumah orang tuaku ketika kami berbicara di telepon. Ia membawa sahabat yang katanya menyampaikan bantuannya dan ia terlihat menyerupai berumur pertengahan 30-an. Aku sama sekali tak merasa laki-laki ini bisa membantuku, ia malaj terlihat menyerupai anggota yakuza kelas teri. Aku belum memberitahu orang tuaku tentangnya dan terperinci mereka juga sama curiganya sepertiku.
Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Hayashi. Aku yakin itu bahkan bukan nama aslinya, namun semua itu bukan problem bagiku. Ia kemudian berbicara denganku.
"Tomohiko, saya dengar bahwa kau terlibat problem yang sangat besar, bukan?"
Maaf memotong di sini, namaku Tomohiko. Maaf gres mengatakannya.
"Hayashi, bukan?" ayahku memotong pembicaraan kami. Nadanya sangat tajam dan defensif, "Bisakah saya tahu mengapa anda tiba ke sini?"
"Karena anak anda, Pak. Anda mungkin takkan mempercayai apa yang saya katakan pada anda, namun anak anda terlibat dalam suatu masalah, benar bukan? Dia mengemis meminta dukungan saya. Karena itulah saya datang."
"Dia dalam masalah?" kata ibuku. Matanya beralih dari Hayashi ke arahku.
"Ya. Saya punya pengalaman dengan hal-hal menyerupai ini. Masalahnya yaitu kasus-kasus yang pernah saya tangani tak pernah ada yang seberat ini. Bukan saya ingin menakuti kalian semua, namun bahkan berada di ruangan ini tidak mengecewakan menciptakan saya takut."
Ayahku semakin tak yakin dengan orang ini, "Maafkan saya bertanya, namun apa gotong royong pekerjaan anda?"
"Ah, mungkin anda berpikir saya ini orang gila. Namun pertanyaan itu yaitu sebuah pertanyaan yang rumit dengan balasan yang rumit pula. Percayalah saja pada saya ketika saya menyampaikan bahwa hanya saya yang sanggup menolong anak anda. Anda tak ingin dia direnggut dari anda untuk selamanya, bukan?"
"Apa kami bisa mempercayai anda untuk menolong anak kami?" ibuku tak sebegitu curiga pada orang ini ketimbang ayahku, namun ia juga tampak tak mempercayai Hayashi sepenuhnya.
"Saya akan membantu kalian jikalau kalian mengizinkannya." Ia menatap mata ibuku dengan tajam ketika mengatakannya. Ibuku mengangguk.
"Masalah menyerupai ini hanya bisa dipecahkan oleh spesialis menyerupai saya. Dan anda tahu, hal ini juga cukup berbahaya bagi diri saya sendiri. Saya membutuhkan suatu jaminan, apa anda mengerti apa yang saya katakan?"
"Berapa yang kau inginkan?" keraguan ayahku semakin menguat. Garis-garis di wajahnya makin menebal.
"Hmmm ... jikalau saya tidak mendapat 2 juta yen [sekitar 230 juta rupiah] ..."
"Apa kau bercanda?" wajah ayahku berubah merah akhir amarahnya.
"Saya sudah mempunyai niat membantu anda dengan tiba ke sini. Maksud saya, saya hanya ingin menolong seorang sahabat di sini. Namun jikalau anda tak menginginkan dukungan saya, saya sanggup pergi kini juga. Atau, saya bisa tinggal jikalau anda memberi saya 2 juta yen, sehingga saya bisa menyelamatkan jiwa anak anda. Saya pikir dengan semua resiko yang saya hadapi, harga itu cukup setimpal." Ia berbalik menatapku, "Anda sudah pergi ke banyak kuil untuk meminta bantuan, bukan? Dan saya berani bertaruh, mereka sama sekali tak peduli pada anda. Well, itu lantaran tak banyak orang bisa menangani situasi menyerupai ini. Apa anda ingin mencari dukungan dari mereka lagi?"
Aku terdiam. Ketika Hayashi menyebutkan harga itu, saya menatap pada Ogawa yang terlihat sama terkejutnya dengan aku. Setelah berbicara satu sama lain selama beberapa saat, orang tuaku dengan enggan menyetujui harga itu. Hayashi kemudian menyampaikan bahwa upacara exorcism (pengusiran setan) akan dilakukan malam ini dan ia mulai bersiap-siap.
Apa yang ia maksud dengan berkemas-kemas benar-benar berbeda dengan yang saya bayangkan. Ia mengatur lilin di kamarku dimana kami bangun di dan ia melekat kertas mantra di tengah ruangan. Dia duduk bersila, menaruh sebuah bola kristal sempurna di depannya dan mengambil sebuah tasbih di tangannya. Ia mengambil apa yang kuduga sebagai sake dan menuangkannya ke dalam gelas. Ya, itulah yang ia sebut sebagai persiapan.
"Hei, Tomohiko, saya akan mengusir hantu itu dari tubuhmu, oke? Semuanya akan baik-baik saja sekarang, jadi saya ingin orang tuamu melaksanakan sesuatu untukku," ia menatap mereka dalam-dalam, "Maaf, namun kalian harus meninggalkan rumah ini untuk sementara waktu. Aku tak bisa menjamin hantu ini tak mencoba untuk merasuki orang lain, dan kita tentu tak ingin hal itu terjadi pada kalian."
Orang tuaku menatapnya dengan curiga, namun kesudahannya sepakat untuk meninggalkan rumah. Mereka masuk ke dalam kendaraan beroda empat mereka yang terparkir di luar sambil menunggu semuanya usai.
Hayashi memulai ritualnya sempurna sehabis matahari terbenam. Ia mulai merapal apa yang terdengar bagiku menyerupai ayat-ayat kitab suci. Pada saat-saat tertentu, ia akan mencelupkan jarinya ke dalam segelas sake yang tadi ia persiapkan dan mencipratkannya ke arahku. Aku setengah percaya dan setengah ragu apakah ia benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Aku menutup mataku dan berbaring di atas kasurku ketika ia menyuruhku begitu.
Upacara itu berjalan beberapa lama. Alunan ayat-ayat itu lama-lama terdengar menyerupai putus-putus, entah kenapa. Aku menjaga mataku tetap tertutup, namun suasana di sekitarku mulai terasa tak beres. Suasana semakin mencekam hingga saya sadar bahwa ruangan ini benar-benar sunyi, tak ada lagi setitik pun suara.
Aku tak merasakannya sebelumnya, namun leherku kembali terasa panas dan menyerupai terbakar. Rasanya sudah tak gatal lagi, namun menyakitkan. Aku ingin membuka mataku dan melihat apa yang terjadi, namun saya hanya menggertakkan gigiku dan memaksa diriku menahan rasa sakit ini.
Namun saya tahu ada yang salah.
Terdengar menyerupai upacara kini sudah selesai, lantaran saya sudah tak mendengar bunyi apapun lagi. Namun saya merasa ini bukanlah sebuah akhir, melainkan ada sesuatu yang menciptakan upacara ini terpotong dari yang seharusnya. Benar-benar sunyi di dalam ruangan ini. Tak ada yang menyampaikan sepatah katapun. Rasa sakit di leherku sama sekali tak berkurang, bahkan semakin meningkat. Rasa panas yang kurasakan sudah tak tertahankan lagi. Ruangan ini juga terasa lebih masbodoh ketimbang ketika upacara itu dimulai.
Dan saya mencicipi menyerupai ada sesuatu yang berada di sampingku.
Aku menyuruh diriku sendiri untuk tidak membuka mata. Aku tahu saya tak boleh melaksanakan itu. Aku tahu bahwa tetap menutup mataku yaitu hal terpintar yang bisa kulakukan. Namun saya tak bisa menahan godaan itu. Aku membukanya.
Dan apa yang kulihat sangatlah mengerikan.
Hayashi masih duduk di sisi kananku, terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Namun di sisi kiriku, duduk makhluk itu. Ia duduk bersila, sama menyerupai Hayashi. Tangannya berada di atas kedua lututnya.
Namun tubuhnya ...
Tubuhnya menjulur ke arah depan, memanjang, sempurna di atas tubuhku. Dan kepalanya ... kepalanya sempurna berada di depan wajah Hayashi. Jarak antara wajah Hayashi dan kepala makhluk itu mungkin hanya berjarak satu bola baseball.
Yang lebih aneh dan mengerikan, kepala hantu itu bergerak menyerupai burung hantu, memutar. Suara mengerikan menyerupai tulang patah mengikuti ketika ia memutar kepalanya, "Kreeek ... kreeeek ... kreeek ..."
Kepalanya miring, kemudian berputar hingga posisi kepalanya horisontal, kemudian memutar hingga tegak lurus, kemudian memutar kembali hingga kembali ke posisinya semula, masih miring.
Ia menatap mata Hayashi kemudian berbisik dengan bunyi yang teramat menakutkan. Aku tak mengerti apa yang ia katakan, mungkin ia membisikkan sesuatu kepada Hayashi, sesuatu yang amat mengerikan. Apapun yang ia bisikkan mempunyai efek yang sangat besar untuk Hayashi. Wajahnya memucat hingga seputih kertas. Kepalanya menunduk dan pandangan matanya mengikuti, jatuh ke bawah. Ia sama sekali tak berkedip dan tak mengucapkan sepatah katapun. Mulutnya membuka dan sebenang air liur jatuh dari bibirnya.
Walaupun sangat tipis, saya bisa melihatnya tersenyum. Ketika ia mendengarkan apapun yang makhluk itu bisikkan, sesekali ia mengangguk kecil. Yang bisa kulakukan hanya menatap insiden mengerikan itu tanpa bisa melaksanakan apapun.
Makhluk itu tiba-tiba memutar lehernya, "Kreeeeek ....."
Dan selanjutnya yang kutahu, ia tengah menatapku.
Aku mencicipi mataku segera menutup dan saya menarik selimutku ke atas kepalaku. Aku membisikkan doa-doa, namun bayangan ketika kepala makhluk itu memutar menyerupai burung hantu dengan bunyi mengerikan tetap terpatri dalam benakku. Aku sangat ketakutan.
Aku mendengar bunyi berdecit dari arah tangga dan segera menyadari seseorang sedang menuruni tangga dengan terburu-buru. Hayashi telah melarikan diri. Aku meringkuk makin dalam di dalam selimutku, menunggu sesuatu untuk terjadi.
Beberapa ketika kemudian, orang tuaku masuk ke dalam kamar, menyalakan lampu, dan menarik selimut dari atas tubuhku. Di sana mereka melihatku meringkuk menyerupai janin. Mereka menyampaikan bahwa Hayashi kabur tanpa sedikitpun melihat ke arah mereka. Ia pribadi melompat ke dalam kendaraan beroda empat dan meluncur pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam.
Ogawa kemudian menyampaikan padaku bahwa ketika Hayashi masuk ke mobil, ia hanya mengatakan, "Nyalakan mobilnya dan cepat pergi" serta berperilaku sangat aneh sepanjang perjalanan.
Kunjungan Hayashi seharusnya menyelamatkanku, namun kondisiku justru memburuk.
Aku tahu saya tak bisa lagi menunggu Miss Akagi.
====== Bersambung ======
Semakin penasarankan sehabis membaca kedua part kisah ini? Tapi ingat ya, jangan terlalu dibawa serius. Dan jangan terlalu banyak termangu kan wacana kisah ini.
