Perangkap Mental Yang Tidak Disadari Ditanamkan Orangtua Pada Anaknya (Part 2)
Pada artikel sebelumnya aku telah membahas perangkap mental yang pertama yaitu Harus Menjadi Yang Terbaik Dalam Segala Hal. Berikut perangkap mental yang kedua yaitu Harus Berbuat Baik Agar Disukai Semua Orang
Ketika kita masih bawah umur kita diajari untuk selalu memenuhi cita-cita orang tua, guru dan orang yang punya otoritas pada diri kita. Kita juga diajarkan untuk bergaul dengan penuh keharmonisan dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan sobat kita.
Lalu apa yang menjadi masalah? salahkah jikalau kita mendidik anak kita untuk berbuat baik supaya disukai semua orang? Masalahnya akan muncul ketika kita hanya mengajari pada anak untuk berbuat baik pada semua orang dan menghindari konflik saja tanpa memberitahu bahwa tidak selamanya relasi pertemanan itu tanpa konflik. Kita perlu mengajari pada anak kita bahwa konflik itu masuk akal adanya, namun anak kita harus diajari bagaimana mengekspresikan perasaannya secara sempurna supaya mereka percaya diri ketika mengekspresikan perasaan itu.
Jika anak dibesarkan dengan rujukan pikir bahwa mereka harus menyenangkan semua orang maka mereka akan dijejali dengan perasaan tidak percaya diri dan sering gelisah, alasannya yaitu harga diri anak kita akan selalu berada pada kendali orang lain. "Jika kau suka aku it's ok, jikalau kau tidak menyukai aku maka niscaya ada yang salah dengan saya"
Kebanyakan bawah umur dan orang cukup umur meletakkan harga diri mereka pada opini orang lain. Para orang bau tanah seharusnya mengomunikasikan pada anak bahwa pada saatnya akan ada konflik yang tidak diinginkan dapat saja terjadi. Dan kalaupun itu terjadi, harus tetap teguh pada pendirian bahwa mereka berada di pihak yang benar.
Jika seorang anak pria berumur belasan tahun yang telah memetik pelajaran ini, akan sangat mungkin berkata "tidak" pada dikala temannya mengajak merokok. Atau seorang anak wanita akan mempunyai pendirian teguh untuk menolak dan menentang segala tekanan, ia akan mempunyai tanggung jawab untuk menolak undangan siapapun untuk melaksanakan relasi sebelum nikah.
