4 Pemain Biola Terbaik Asal Indonesia

Violinist ialah salah satu sebutan untuk pemain biola atau violin. Biola ialah alat musik string yang dimainkan dengan cara digesek. Banyak violinist diluaran sana. Mulai dari dunia pecahan barat hingga timur, dari pecahan utara maupun pecahan selatan. Namun, tak perlu jauh-jauh ke penjuru dunia, di negara tercinta kita ini banyak sekali violinist yang berbakat. Mulai dari yang muda hingga bau tanah baik itu laki-laki maupun wanita semuanya mempunyai bakat serta keterampilan yang berbeda-beda dalam bermain biola.

Diantara violinist-violinist tersebut pastinya ialah yang mempunyai kemampuan lebih yang jarang dimiliki oleh banyak orang. Siapa sajakah pemain biola terbaik asal Indonesia yang siap atau bahkan sudah Go Internasional? Mari kita bahas satu persatu.

  • Idris Sardi


Idris Sardi (lahir di Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta), 7 Juni 1938 – meninggal di Cimanggis, Depok, 28 April 2014 pada umur 75 tahun) ialah seorang pemain biola berkebangsaan Indonesia. Ia ialah anak dari pemain biola Orkes RRI Studio Jakarta, Bp. Sardi. Sementara ibunya, Hadidjah merupakan aktris Indonesia di masa tahun 1940-1970.

Tahun 1952 Sekolah Musik Indonesia (SMIND) dibuka, dengan persyaratan mendapatkan lulusan Sekolah Menengah Pertama atau yang sederajat. Pada tahun 1952, Idris Sardi gres berusia 14 tahun, sehingga ia belum lulus SMP, namun alasannya ialah permainannya yang luar biasa ia bisa diterima sebagai siswa SMIND tersebut. Bersama temannya yang juga pemain biola, Suyono (almarhum).

Pada orkes siswa SMIND pimpinan Nicolai Varvolomejeff, tahun 1952 Indris yang masih menggunakan celana pendek dalam seharian duduk sebagai concert master pada usia 14 tahun, duduk bersanding dengan Suyono. Rata-rata siswa SMIND berusia di atas 16 tahun. Guru biola Idris waktu di Yogyakarta (1952-1954) ialah George Setet, sedangkan pada waktu di Jakarta (setelah 1954) ialah Henri Tordasi. Kedua guru orang Hongaria.

Ketika M. Sardi meninggal, 1953, Idris dalam usia 16 tahun harus menggantikan kedudukan sang ayah sebagai violis pertama dari Orkes RRI Studio Jakarta pimpinan Saiful Bahri. Pada tahun 60-an, Idris beralih dari dunia musik biola serius, idolisme Heifetz, ke komersialisasi Helmut Zackarias.

Sumber :https://id.wikipedia.org/wiki/Idris_Sardi


  • Iskandar Widjaja 


Iskandar Widjaja (lahir di Berlin, 6 Juni 1986; umur 30 tahun) ialah seorang pemain biola asal Jerman dan pemenang aneka macam kompetisi internasional. Dia ialah cucu musisi Indonesia Udin Widjaja yang sangat populer di masa Presiden Soekarno alasannya ialah lagu-lagu gubahannya. Dia mempunyai darah Tionghoa Medan dari Ibunya (Chin Widjaja) dan Belanda-Arab-Maluku dari Ayahnya (Ivan Hadar). Dia memulai berlatih piano semenjak berusia tiga tahun sesudah ia dan ibunya menyaksikan sebuah konser musik klasik belum dewasa di Jerman.

Iskandar Widjaja mulai bermain biola semenjak usia 3 tahun sesudah ia dan ibunya melihat konser musik. Usai mendapatkan biolanya, Iskandar Widjaja berguru bermain biola dengan teknik Suzuki di bawah pedoman Susan Mann. Teknik Suzuki ialah metode berguru instrumen musik yang mengacu pada pengajaran Dr Shinichi Suzuki, pebiola dan pendidik musik, Yaitu berguru menyerupai mempelajari bahasa ibu. Beranjak remaja, Iskandar Widjaja diterima sebagai siswa termuda di Collage if Music, Berlin. Setelah lulus, Iskandar Widjaja melanjutkan ke University of the Arts di Berlin.

Kepiawainnya bermain biola membuatnya meraih banyak penghargaan bergengsi. Sebut saja medali emas dalam First International Hindemith Violin Competition, dan First Prize dalam the German National Competition "Jugend musiziert". Dia juga meraih "Best Bach" dan "Best Beethoven" sonatas di the XXI Concorso Violinistico Internazionale Andrea Postacchini dan masih banyak lagi.

Di usia yang masih muda, prestasi laki-laki kelahiran Jerman, 6 Juni 1986 ini sudah mendunia. Prestasi itu pulalah yang mengantarnya tampil di pergelaran di seluruh dunia. Seperti tampil di the Sydney Symphony Orchestra, the Dubrovnik Symphony Orchestra, the Sinfonieorchester Berlin, the Orchestre de la Suisse Romande. Belum lagi festival-festival kelas atas menyerupai "Kissinger Summer", "Valdres Sommersymfoni", "Festival de St. Prex", "Music Festival Phnom Penh" dan "Keshet Eiolon".

  • Clarissa Tamara



Clarissa Tamara, atau biasa dipanggil Icha (lahir di Jakarta, 28 April 1999; umur 17 tahun) ialah seorang pemain biola asal Indonesia. Gadis ini memang telah mempunyai minat pada biola semenjak usia dua tahun. Clarissa meminta sendiri kepada orang bau tanah nya untuk mengkhursuskan Icha bermain biola. Dia pun mulai berguru memainkan biola semenjak usia 4 tahun. Hasilnya, Icha benar-benar berhasil mengatakan prestasinya di dunia tersebut. Di Usia 5 tahun Icha berhasil meraih Juara I Kids Talent Contest, dan pada usia 6 tahun mulai mempersiapkan diri untuk menciptakan album pertamanya.

Pada usia delapan tahun, Icha telah meluncurkan album perdananya yang berjudul "8" yang dirilis pada tanggal 8 Maret 2008. Di album pertamanya ini Clarissa memadukan permainan biolanya dengan beberapa jenis musik menyerupai jazz, dangdut, dan pop. Album yang berisi 11 lagu ini 10 di antaranya ialah berupa musik instrumental dengan alunan biola buah tabrakan dari tamara sedangkan lagu yang berjudul “kring – Kring Halo” dinyanyikan sendiri oleh Clarissa. Album yang digarap selama 2 tahun ini melibatkan beberapa musisi menyerupai Tamam Hoesein, Henry Lamiri, Marcel Aulia, Indro Hardjoko dan Uce Haryono. Satu tahun sesudah album pertama Clarissa direales Clarissa berhasil meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia 2009 sebagai "Artis Terbaik" dan "Karya Produksi Terbaik" dalam bidang World Music/Instrumentalia. Dan pada Desember 2009 Clarissa meriliskan album keduanya yang berisi lagu - lagu natal dan berjudul "9 Gift of Christmast".

Di usianya yang ke 14, Clarissa Tamara menerangkan talentanya pada tanggal 15 Juni 2013 dengan mencatat Rekor Dunia pada badan Record Holder Republic sebagai Pemain Biola Tercepat memainkan lagu Flight of The Bumblebee dengan kecepatan 273 bpm (beat per minute)dalam waktu 49,42 detik
  • Henry Lamiri



Hendri Lamiri (lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 24 Agustus 1972; umur 44 tahun) ialah seniman berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal sebagai musisi yang tergabunng dalam band Arwana. Selain bermain untuk grupnya, Hendri juga mendukung banyak musisi dan penyanyi antara lain Erwin Gutawa, Chrisye, KLa Project, Mus Mujiono, Ika Ratih Poespa, Clarissa Tamara, Duo Ratu, dan lain-lain. Dia juga terlibat dalam penggarapan ilustrasi musik sejumlah film.

Hendri Lamiri lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 24 Agustus 1972. Sejak usia muda, Hendri sudah mengakrabi dunia kesenian, utamanya musik, dengan menggeluti alat musik biola. Namun ia juga menguasai alat musik lainnya.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Hendri_Lamiri


Itulah pemain biola terbaik asal Indonesia. Semoga Bermanfaat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel