Mengapa Insan Butuh Bersosialisasi?
![]() |
| Bersosialisasi |
Mungkin banyak diantara orang orang yang bertanya, bekerjsama mengapa insan butuh bersosialisasi? kemudian apa yang terjadi kalau insan tidak bersosialisasi?
Seorang psikolog dan fisikawan asal austria, Alfred Adler mencoba menjawab pertanyaan ini melalui sebuah teori yang dicetuskannya yang ia beri nama psikologi individual. Adler menyampaikan bahwa ada daya motivasi yang mendorong insan berperilaku. Daya motivasi itu dinamakan "dorongan superioritas (menuju kesempurnaan)". Dorongan tersebut semakin membuat insan semakin akrab dengan apa yang diidealkan. Hal ini berlawanan dengan yang dikatakan oleh Sigmund Freud bahwa kehidupan masa sekarang itu dipengaruhi oleh masa kemudian menyerupai stress berat masa kecil menyebabkan kehidupan kita ketika ini berantakan. Sedangkan berdasarkan Adler justru dorongan motivasi untuk mencapai kesempurnaan di masa depanlah yang menjadi penentu masa kini. Untuk mendukung dorongan menuju kesempurnaan, Adler menyatakan bahwa ada wangsit lain yakni minat sosial yang akan menjadi pertimbangan seseorang dalam mencapai kesempurnaan itu. Inti dari teori psikologi individual ini yaitu sesungguhnya insan itu lahir dengan badan yang lemah dan perasaan inferior, oleh lantaran itu insan butuh menyatu dengan insan lain.
Prinsip Prinsip Psikologi Individual
Superioritas
Lahirnya teori psikologi individual juga dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya Adler. Adler dari kecil fisiknya lemah dan sakit sakitan, oleh alasannya ialah itu ia bersaing dengan abang laki lakinya yang fisiknya sehat. Oleh alasannya ialah itu psikologi individual mengajarkan bahwa seseorang memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang menyebabkan perasaan inferior. Oleh alasannya ialah itu terbentuk sebuah rasa ingin menjadi superioritas.
Adler beropini bahwa sikap insan dikendalikan oleh tujuan akhir. Pada awalnya orang orang mengejar tujuan awal, namun sesudah mengetahui tujuan akhir, orang tersebut perilakunya akan lebih terarah.
Superioritas insan muncul lantaran ingin menolong orang lain dan memandang orang lain bukan sebagai lawan, melainkan pihak yang sanggup diajak bekerjasama mencapai kepentingan sosial. Namun orang yang ingin mencapai tujuan langsung daripada tujuan untuk kepentingan umum, maka hal tersebut sudah dikategorikan dalam perkembangan yang abnormal. Superioritas langsung muncul lantaran rasa inferioritas yang berlebihan menyerupai contohnya para pencuri, mereka mempunyai rasa minder yang amat besar pada orang lain dalam bidang ekonomi, oleh alasannya ialah itu untuk menutupi inferioritasnya dan untuk mencapai superioritas dengan cara mencuri tersebut.
Persepsi Subjektif
Untuk mengatasi inferioritas seseorang lebih memakai persepsi subjektif yang belum tentu sesuai dengan kenytaan. Atau biasanya merupakan impian masa depan. Kepribadian insan terbentuk oleh bagaimana persepsinya terhadap masa depan. Tujuan final akan membentuk gaya hidup dan membentuk kepribadian menjadi kesatuan. Dan kalau tujuan itu dipahami, maka akan memberi tujuan kepada setiap tingkah laku. Misalnya saja seseorang yang sadar bahwa tujuan akibatnya ialah alam abadi (kehidupan sesudah mati) maka segala bentuk tingkah lakunya bertujuan untuk akhirat.
Kesatuan Kepribadian
Adler memandang bahwa kepribadian merupakan satu kesatuan yang tidak sanggup dipisahkan, sehingga pikiran, perasaan dan tindakan mengarah pada satu tujuan. Ada 2 cara untuk mengenali kesatuan kepribadian manusia.
Persepsi Subjektif
Untuk mengatasi inferioritas seseorang lebih memakai persepsi subjektif yang belum tentu sesuai dengan kenytaan. Atau biasanya merupakan impian masa depan. Kepribadian insan terbentuk oleh bagaimana persepsinya terhadap masa depan. Tujuan final akan membentuk gaya hidup dan membentuk kepribadian menjadi kesatuan. Dan kalau tujuan itu dipahami, maka akan memberi tujuan kepada setiap tingkah laku. Misalnya saja seseorang yang sadar bahwa tujuan akibatnya ialah alam abadi (kehidupan sesudah mati) maka segala bentuk tingkah lakunya bertujuan untuk akhirat.
Kesatuan Kepribadian
Adler memandang bahwa kepribadian merupakan satu kesatuan yang tidak sanggup dipisahkan, sehingga pikiran, perasaan dan tindakan mengarah pada satu tujuan. Ada 2 cara untuk mengenali kesatuan kepribadian manusia.
- Bahasa Organ
- Kesadaran Dan Ketidaksadaran
Ketika salah satu organ badan kita bermasalah, maka akan mengganggu kinerja organ badan yang lain. Misalnya kalau hidung tidak bisa menyaring udara, maka akan mengganggu paru paru. Kemudian bahasa organ juga bisa dipengaruhi oleh psikologis seseorang. Misalnya seorang anak bekerjsama sangat tidak menyukai apa yang disuruh orangtuanya, namun anak itu melakukannya lantaran takut. Pada ketika berdiri di pagi hari anak tersebut ngompol hal ini memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara impian dengan kenyataan. Dalam artian "tubuh berusaha memberontak melalui bahasa organ untuk memperlihatkan ketidaksetujuannya".
Pikiran sadar itu yang dipahami oleh seseorang untuk mencapai kesuksesan, sedangkan pikiran bawah sadar itu mencakup tujuan final yang belum dipahami oleh individu tersebut. Apapun yang dianggap tidak membantu akan ditekan ke bawah sadar. Namun pikiran itu disadari atau tidak tujuannya untuk mencapai superioritas.
Minat Sosial
Orang yang minat sosialnya berkembang dengan baik, ia berjuang bukan untuk superioritas pribadi, melainkan untuk melainkan untuk memajukan kepentingan sosial.
Perkembangan Minat Sosial
Meskipun minat sosial itu ada semenjak lahir, hal itu terlalu lemah untuk berkembang dengan sendirinya. Maka dari itu kiprah ibulah yang berbagi potensi minat sosial tersebut. Hal ini lantaran semenjak dalam kandungan, bayi sudah mempunyai kesatuan dengan ibunya, bahkan sesudah lahirpun bayi ingin mempertahankan kesatuan itu melalui menyusu pada ibunya. Bayi sangat tergantung pada ibunya untuk memuaskan kebutuhan fisik dan psikologisnya.
Karena minat sosial dikembangkan oleh korelasi ibu anak, maka kadar minat sosial tiap anak berbeda beda. Ibu seharusnya memegang prinsip untuk lebih fokus pada kesejahteraan anak, bukan keinginan ibu. Hubungan cinta yang berkembang bbaik berasal dari rasa kepedulian terhadap orang lain. Ibu yang paham bagaimana memberi dan mendapatkan cinta dari orang lain tidak akan kesulitan untuk memperluas minat sosial anaknya.
Dengan mengamati minat sosial ibunya, anak akan sadar bahwa ada orang lain selain dirinya dan ibunya yang lebih penting. Ibu harus seimbang dalam memberi cinta terhadap anak, suami dan masyarakat. Jika ibu berlebihan memberi cinta pada anak, maka anak menjadi dimanja, sementara kalau ibu lebih cinta suami dan masyarakat, anak akan menjadi terabaikan. Kedua kesalahan itu menghambat kemampuan kerjasama pada anak.
Ayah ialah orang penting kedua sesudah ibunya. Dia punya fungsi yang sulit dan hanya sedikit ayah yang berhasil. Dia harus punya sikap yang baik terhadap istri, pekerjaan dan masyarakat. Ayah yang ideal ialah yang bekerjasama dengan istrinya dalam mendidik anak. berdasarkan Adler ayah sukses tidak melaksanakan dua kesalahan yaitu mengabaikan anak dan otoriter, lantaran kesalahan keduanya menghambat perkembangan minat sosial anak.
Kesalahan yang pertama, anak akan merasa diabaikan dan akan timbul kasih sayang yang neurotik kepada ibunya. Anak juga akan mencari tujuan superioritas pribadi. Kesalahan kedua, Orangtua diktatorial juga memungkinkan anaknya mempunyai gaya hidup yang neurotik. Ayah melihat ayahnya sebagai seseorang yang berjuang untuk mendapatkan kekuasaan untuk superioritas pribadi.
Dampak dari lingkungan sosial akan sangat berpengaruh. Sejak anak berusia lebih dari 5 tahun, kiprah hereditas (keturunan) akan mulai kabur. Jika ia belajar, maka bisa mengubah hampir semua aspek kepribadiannya. Menurut Adler, bayi secara alami berbagi cinta dan kasih sayang dengan orang lain. Ketidakberdayaan bayi menjadi pendorong terhadap sikap keibuan. Adler menolak panangan Freud bahwa intinya insan itu narsistik (mementingkan diri sendiri). Menurut Adler, orang menjadi narsistik lantaran asuhan ibu tidak bisa berbagi minat sosial. Narsistik ialah bentuk neurotik yang tidak dilahirkan, namun dikemangkan dari korelasi ibu-anak yang neurotik, yaitu pola asuh pengabaian dan pemanjaan.
Kriteria Nilai Nilai Kemanusiaan
Minat sosial menjadi satu satunya tolak ukur kesehatan jiwa seseorang. Tingginya minat sosial seseorang memperlihatkan kematangan psikologisnya. Orang yang sehat, peduli kepada orang lain dan mempunyai tujuan sukses bagi kesejahteraan orang banyak. Hidup akan menjadi bermakna dari sumbangan langsung ke orang lain dan sumbangan langsung ke generasi penerusnya.
Minat sosial tidak sama dengan dermawan. Orang bahagia memberi bisa dimotivasi oleh minat sosial, namun bisa juga tidak. Seorang yang kaya raya menyumbang rutin tiap bulan berupa uang dar barang kepada fakir miskin bukan lantaran ia merasa satu kesatuan dengan fakir miskin tapi lantaran memang ia ingin merasa terpisah dengan fakir miskin seolah olah berkata "Kamu semua inferior, dan saya superior, sumbangan ini mengambarkan superioritas saya".
Gaya Hidup
Dalam konsep gaya hidup ini Adler menjelaskan keunikan manusia. Setiap orang mempunyai tujuan, merasa inferior, dan ingin mencapai superioritas serta diwarnai dengan minat sosial ataupun tidak. Namun dalam usahanya untuk mencapai semua itu, setiap orang punya cara yang berbeda-beda. Itulah yang dimaksud gaya hidup.
Orang yang minat sosialnya berkembang dengan baik, ia berjuang bukan untuk superioritas pribadi, melainkan untuk melainkan untuk memajukan kepentingan sosial.
Perkembangan Minat Sosial
Meskipun minat sosial itu ada semenjak lahir, hal itu terlalu lemah untuk berkembang dengan sendirinya. Maka dari itu kiprah ibulah yang berbagi potensi minat sosial tersebut. Hal ini lantaran semenjak dalam kandungan, bayi sudah mempunyai kesatuan dengan ibunya, bahkan sesudah lahirpun bayi ingin mempertahankan kesatuan itu melalui menyusu pada ibunya. Bayi sangat tergantung pada ibunya untuk memuaskan kebutuhan fisik dan psikologisnya.
Karena minat sosial dikembangkan oleh korelasi ibu anak, maka kadar minat sosial tiap anak berbeda beda. Ibu seharusnya memegang prinsip untuk lebih fokus pada kesejahteraan anak, bukan keinginan ibu. Hubungan cinta yang berkembang bbaik berasal dari rasa kepedulian terhadap orang lain. Ibu yang paham bagaimana memberi dan mendapatkan cinta dari orang lain tidak akan kesulitan untuk memperluas minat sosial anaknya.
Dengan mengamati minat sosial ibunya, anak akan sadar bahwa ada orang lain selain dirinya dan ibunya yang lebih penting. Ibu harus seimbang dalam memberi cinta terhadap anak, suami dan masyarakat. Jika ibu berlebihan memberi cinta pada anak, maka anak menjadi dimanja, sementara kalau ibu lebih cinta suami dan masyarakat, anak akan menjadi terabaikan. Kedua kesalahan itu menghambat kemampuan kerjasama pada anak.
Ayah ialah orang penting kedua sesudah ibunya. Dia punya fungsi yang sulit dan hanya sedikit ayah yang berhasil. Dia harus punya sikap yang baik terhadap istri, pekerjaan dan masyarakat. Ayah yang ideal ialah yang bekerjasama dengan istrinya dalam mendidik anak. berdasarkan Adler ayah sukses tidak melaksanakan dua kesalahan yaitu mengabaikan anak dan otoriter, lantaran kesalahan keduanya menghambat perkembangan minat sosial anak.
Kesalahan yang pertama, anak akan merasa diabaikan dan akan timbul kasih sayang yang neurotik kepada ibunya. Anak juga akan mencari tujuan superioritas pribadi. Kesalahan kedua, Orangtua diktatorial juga memungkinkan anaknya mempunyai gaya hidup yang neurotik. Ayah melihat ayahnya sebagai seseorang yang berjuang untuk mendapatkan kekuasaan untuk superioritas pribadi.
Dampak dari lingkungan sosial akan sangat berpengaruh. Sejak anak berusia lebih dari 5 tahun, kiprah hereditas (keturunan) akan mulai kabur. Jika ia belajar, maka bisa mengubah hampir semua aspek kepribadiannya. Menurut Adler, bayi secara alami berbagi cinta dan kasih sayang dengan orang lain. Ketidakberdayaan bayi menjadi pendorong terhadap sikap keibuan. Adler menolak panangan Freud bahwa intinya insan itu narsistik (mementingkan diri sendiri). Menurut Adler, orang menjadi narsistik lantaran asuhan ibu tidak bisa berbagi minat sosial. Narsistik ialah bentuk neurotik yang tidak dilahirkan, namun dikemangkan dari korelasi ibu-anak yang neurotik, yaitu pola asuh pengabaian dan pemanjaan.
Kriteria Nilai Nilai Kemanusiaan
Minat sosial menjadi satu satunya tolak ukur kesehatan jiwa seseorang. Tingginya minat sosial seseorang memperlihatkan kematangan psikologisnya. Orang yang sehat, peduli kepada orang lain dan mempunyai tujuan sukses bagi kesejahteraan orang banyak. Hidup akan menjadi bermakna dari sumbangan langsung ke orang lain dan sumbangan langsung ke generasi penerusnya.
Minat sosial tidak sama dengan dermawan. Orang bahagia memberi bisa dimotivasi oleh minat sosial, namun bisa juga tidak. Seorang yang kaya raya menyumbang rutin tiap bulan berupa uang dar barang kepada fakir miskin bukan lantaran ia merasa satu kesatuan dengan fakir miskin tapi lantaran memang ia ingin merasa terpisah dengan fakir miskin seolah olah berkata "Kamu semua inferior, dan saya superior, sumbangan ini mengambarkan superioritas saya".
Gaya Hidup
Dalam konsep gaya hidup ini Adler menjelaskan keunikan manusia. Setiap orang mempunyai tujuan, merasa inferior, dan ingin mencapai superioritas serta diwarnai dengan minat sosial ataupun tidak. Namun dalam usahanya untuk mencapai semua itu, setiap orang punya cara yang berbeda-beda. Itulah yang dimaksud gaya hidup.
Jumlah hidup sebanding dengan jumlah insan contohnya seseorang berjuang untuk superior dalam bidang kekuatan fisik, maka orang tersebut akan bahagia dengan hal-hal yang bekerjasama dengan kekuatan fisik menyerupai sepak bola. Kemudian ada orang yang berjuang mencapai superioritas intelektual, maka orang tersebut menghabiskan banyak waktu nya membaca buku.
Gaya hidup tidak hanya dibuat oleh faktor keturunan dan lingkungan objektif saja melainkan juga melalui pandangan orang tersebut terhadap keduanya. Misalnya ada seseorang yang tinggal di lingkungan pencopet. Lalu kemudian ia lebih menentukan untuk keluar dari bidang itu lantaran dalam pandangannya mencapai itu hal yang tidak baik.
Menurut adler, hidup ini ditentukan oleh kompensasi dari inferioritas inferioritas yang ada pada diri seseorang. Misalnya anak yang lemah akan berbagi kehidupan menghasilkan kekuatan (Napoleon sang penakluk bersumber dari badan yang kecil)
Kekuatan Kreatif Self
Self kreatif ialah kekuatan ketika sesudah “keturunan” dan “lingkungan” yang menentukan tingkah laku. Kata Adler, keturunan memberi “kemampuan tertentu” dan lingkungan memberi “kesan tertentu”. Nah, untuk bagaimana insan mengalami dan menginterpretasi keduanya disebut bahan. Self kreatif memanfaatkan materi tersebut untuk membangun sikap dalam kehidupan. Jadi, diri kreatif ialah suatu alat yang dipakai untuk mengolah fakta-fakta dunia kemudian kemudian mentransformasikannya menjadi kepribadian yang bersifat subjektif. Diri kreatif memberi arti kepada kehidupan serta membuat tujuan maupun cara untuk mencapainya. Misalnya ada seseorang keturunan guru yang tinggal dalam lingkungan yang (maaf) kurang berpendidikan. Lalu ia mulai menginterpretasi keadaan tersebut menjadi “wah, di lingkunganku banyak orang yang kurang (maaf) berpendidikan, jadi saya harus memperlihatkan pola yang baik yang bertujuan untuk mendidik”. Nah dari situlah kiprah dari diri kreatif yaitu menginterpretasi hal dari keturunan dan lingkungan, kemudian diinternalisasi menjadi suatu kepribadian.
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
